"); }); }) gapi.client.load('oauth2', 'v2', function() { gapi.client.oauth2.userinfo.get().execute(function(resp) { $('#email').val(resp.email); }) }); } } else if (authResult['error']) { // There was an error. // Possible error codes: // "access_denied" - User denied access to your app // "immediate_failed" - Could not automatially log in the user console.log('There was an error: ' + authResult['error']); } } jQuery(function($) { $( "#gConnect1,#gConnect2,#gConnect3,#gConnect4").click(function() { $.cookie("fconnect", "true", { expires: 2, path: '/', domain: '.sports.com', }); }); }); function logincek(id,types) { $.getJSON("https://sports.unisda.ac.id/auth/user_cek?callback=?", {type:types,uid:id}, function(data) { if(data.status == 1) { $.fancybox.close(true); $("#userid").html('
' + data.fullname + ''); $.getJSON("https://sports.unisda.ac.id/auth/user_img?callback=?", { id : data.user_id,size : '22' }, function(data) { $("#img_uhead").html(data.img); $("#img_uhead img").css({"border":"1px solid #555","margin-top":"-2px"}); $("#img_uhead").show(); }); } else { // if(types == "fb") // register('fb','Register with Facebook'); // else if(types == "gplus") register('gplus','Register with Google+'); } }); }

Sports Unisdaners / Citizen Journalism

Wiranto Dan Sejarah Pembunuhan Para Khalifah

Siapa pembunuh Khalifah Utsman bin Affan ra? Dialah Abdullah bin Saba’, seseorang yang dulunya beragama Yahudi

Wiranto Dan Sejarah Pembunuhan Para Khalifah
Istimewa
KH. Imam Jazuli lc. MA bersama Syekh Mohammad al Basyouni dari Universitas al Azhar Mesir ketika beliau berkunjung ke Pesantren Bina Insan Mulia. 

Aspirasi politik, seruan kebenaran, dan tuntutan keadilan bagi mereka hanya topeng-topeng semata, yang bisa digunakan untuk menyembunyikan watak asli yang serupa vampir (Abdullah Ghabban, Fitnah Maqtal Utsman bin Affan, Madinah: Maktabah al-Abikan, 1999, h. 205-6).

Di tangan orang-orang muslim yang haus darah ini, era kekhalifahan ar-rasyidah berakhir. Vampir-vampir muslim inilah yang mengakhiri kekhalifahan Islam. Siapa pembunuh khalifah Ali bin Abi Thalib ra? Dialah Abdurrahman bin Muljam, seorang muslim dari aliran Khawarij. Ibnu Muljam adalah ahli al-Quran dan ahli fikih, bahkan seorang murid yang tekun berguru langsung kepada Mu’adz bin Jabal. Kehidupan sehari-hari Ibnu Muljam pun diisi dengan bergaul bersama orang-orang mulia (al-asyraf).

Abdurrahman bin Muljam juga "dosen", ustad, dan intelektual tersohor di Mesir. Di dekat rumahnya, ada sebuah masjid. Di masjid itulah, dia mengajar umat muslim tentang al-Quran dan ilmu fikih. Sampai-sampai jamaah yang datang belajar padanya meluber hingga ke halaman masjid dan halaman rumahnya (Syamsuddin ad-Dzahabi, “Tarjamah al-Muftari Abdirrahman bin Muljam Qathil Ali radhiyallahu anh”, dalam Siyar A’lam an-Nubala, juz 28, h. 287-8).

Di jaman modern, muslim-muslim pembunuh ini kita istilahkan sebagai teroris. Al-Qaedah, Islamic State Iraq and Syria (ISIS), Hizbut Tahrir, adalah organisasi muslim teroris modern. Para pembunuh ini mencita-citakan tegaknya kekhalifahan seperti era khalafaurrasyidin. Mungkin, mereka rindu pada jaman-jaman dahulu, dimana mereka bisa dengan mudah memenggal kepala para khalifah.

Jangankan hanya orang sekecil seperti Wiranto. Para khalifah sekaliber Umar, Usman dan Ali saja dibantai habis. Sebenarnya, para teroris ini tidak ingin menegakkan khilafah, tidak bertujuan menciptakan negeri yang penuh keadilan, makmur dan sejahtera. Tetapi, memang watak mereka sejak jaman khalafaurrasyidin adalah watak vampir yang haus darah. Itu saja, tidak lebih.

Seorang khalifah (baca: Umar, Usman, Ali), termasuk presiden dan menteri, halal dibunuh menurut kelompok muslim ini. Inilah bahaya kaum teroris berkedok Islam. Misal, Abdurrabbih al-Kabir dan mayoritas Khawarij sepakat bahwa Ali bin Abi Thalin telah kafir. Kelompok al-Aroziqah, sempalan Khawarij, malah lebih ekstrim.

Mereka menyebut, negara di bawah kepemimpinan Ali adalah Daru Kufrin (Negara Kafir). Bukan hanya Ali, tetapi Abu Musa wakil kubu Ali dan Amr hin Ash wakil Kubu Muawiyah juga kafir. Siapapun di negeri kafir, termasuk anak-anak kecil boleh dibunuh (Abul Hasan al-Asyari, Maqalat Islamiyyin, juz 1, Beirut: Maktabah Ashriyah, 1990, h. 170).

Penulis tidak heran apabila ada kelompok muslim yang menganggap Indonesia adalah Daru Kufrin (negara kafir), Pancasila sebagai ideologi thoghut. Jangankan hanya Pancasila, NKRI, UUD '45, Era Khalifah Ar-Rasyidah saja dituduh negara kafir. Lantas, bagaimana jika kita melihat dari sudut pandang dan sikap yang mesti dilakukan oleh pemerintah, khususnya dalam menyikapi teroris muslim yang haus darah ini?

Khalifah Abu Bakar as-Shiddiq memutuskan memerangi umat muslim yang menolak membayar zakat. Sebab, zakat pada waktu itu adalah simbol ketaatan rakyat pada negara. Pada mulanya, Umar bin Khattab menolak keputusan Khalifah Abu Bakar. Setelah mempertimbangkan baik-buruknya, Umar pun ikut setuju berperang bersama Abu Bakar melawan umat muslim yang melawan negara.

Spirit melawan umat muslim yang makar terhadap negara berulang lagi. Pada Perang Shiffin di Daumatul Jandal, jawaban Islam pada era khalafaurrasyidin dalam menyikapi pihak-pihak yang menyerang kekuasaan sah sangatlah jelas. Khalifah Ali bin Abi Thalib memutuskan untuk memerangi kubu pemberontak, Muawiyah bin Abi Sufyon. Tidak saja seorang muslim taat, Muawiyah sedang memperjuang nilai yang dia sebut sebagai pelanggaran Hak Asasi Manusia berupa pelenyapan nyawa khalifah Usman bin Affan. Tetapi, khalifah Ali tahu bahwa itu makar. Tanpa rasa segan, Ali menurunkan pasukan untuk memerangi komplotan umat muslim yang dipimpin Muawiyah bin Abi Sofyan.

*Penulis adalah Alumnus Universitas al-Azhar, Mesir; Pengasuh Pondok Pesantren Bina Insan Mulia, Cirebon; Pimpinan Pusat Rabithah Ma’ahid Islamiyah (Asosiasi Pondok Pesantren se-Indonesia); Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) Periode 2010-2015.

Editor: Husein Sanusi
Sports Unisdaners merupakan jurnalisme warga, dimana warga bisa mengirimkan hasil dari aktivitas jurnalistiknya ke Sports Unisda, dengan mendaftar terlebih dahulu atau dikirim ke email redaksi@sports.com
Ikuti kami di
KOMENTAR
"); $("#latestul").append("
  • "); $(".loading").show(); var newlast = getLast; $.getJSON("https://api.sports.com/ajax/latest_section/?callback=?", {start: newlast,section:'8',img:'thumb2'}, function(data) { $.each(data.posts, function(key, val) { newlast = newlast + 1; newlast = newlast+1; if(val.video) { var vthumb = ""; var vtitle = " "; } else { var vthumb = ""; var vtitle = ""; } if(val.thumb) { var img = "
    "+val.title+""+vthumb+"
    "; var milatest = "mr140"; } else { var img = ""; var milatest = ""; } if(val.subtitle) subtitle = "

    "+val.subtitle+"

    "; else subtitle = ''; if(val.thumb) img = "
    "+val.title+""+vthumb+"
    "; else img = ''; if(val.c_title) cat = ""+val.c_title+""; else cat = ''; $("#latestul").append("
  • "+img+"
    "+subtitle+"

    "+val.title+vtitle+"

    "+val.introtext+"
    "+val.s_title+"
  • "); }); $(".loading").remove(); }); } else if (getLast > 150) { if ($("#ltldmr").length == 0){ $("#latestul").append('
  • Tampilkan lainnya
  • '); } } } }); }); function loadmore(){ if ($("#ltldmr").length > 0) $("#ltldmr").remove(); var getLast = parseInt($("#latestul > li:last-child").attr("data-sort")); $("#latestul").append("
    "); $(".loading").show(); var newlast = getLast ; $.getJSON("https://api.sports.com/ajax/latest_section/?callback=?", {start: newlast,section:'8',img:'thumb2',total:'40'}, function(data) { $.each(data.posts, function(key, val) { newlast = newlast+1; if(val.video) { var vthumb = ""; var vtitle = " "; } else { var vthumb = ""; var vtitle = ""; } if(val.thumb) { var img = "
    "+val.title+""+vthumb+"
    "; var milatest = "mr140"; } else { var img = ""; var milatest = ""; } if(val.subtitle) subtitle = "

    "+val.subtitle+"

    "; else subtitle = ''; $("#latestul").append("
  • "+img+"
    "+subtitle+"

    "+val.title+vtitle+"

    "+val.introtext+"
    "+val.s_title+"
  • "); }); $(".loading").remove(); }); }

    BERITA TERKINI

    © 2019 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved